Jakarta, Release24.online — Ketua Umum Aris Tama menilai budaya instan yang berkembang di media sosial berpotensi melemahkan kualitas demokrasi dan mereduksi kedalaman diskursus publik. Fenomena konsumsi informasi serba cepat, menurutnya, membuat masyarakat kerap bereaksi tanpa proses pemahaman yang utuh terhadap suatu isu.
Pernyataan tersebut disampaikan Aris dalam keterangan tertulis, Rabu (25/3/2026). Ia menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan partisipasi, tetapi juga kedewasaan berpikir dan ruang refleksi yang memadai.
“Budaya serba cepat di media sosial mendorong publik untuk menilai persoalan secara instan, padahal demokrasi membutuhkan pertimbangan yang matang dan dialog yang mendalam,” ujarnya.
Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA) itu mengingatkan bahwa sepanjang sejarah peradaban, perubahan besar dalam bidang politik, sosial, dan ilmu pengetahuan lahir dari tradisi membaca, menulis, serta perdebatan panjang yang argumentatif. Tradisi tersebut, kata dia, kini menghadapi tantangan serius di tengah dominasi konten singkat dan pola konsumsi informasi yang serba cepat.
Menurut Aris, kondisi ini berisiko membuat ruang diskursus publik semakin dangkal. Percakapan di media sosial kerap didominasi oleh slogan, potongan informasi, serta respons emosional yang miskin konteks dan analisis.
ARMADA, lanjutnya, mendorong penguatan budaya literasi di berbagai lapisan masyarakat agar publik tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah terseret arus informasi sesaat.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang tidak hanya cepat bereaksi, tetapi juga mampu memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil sikap,” kata Aris.
Ia menegaskan bahwa menjaga kedalaman berpikir publik bukan sekadar meningkatkan minat baca, melainkan juga menyangkut kualitas pengambilan keputusan kolektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Red
