Jakarta, Release24.online — Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA), Aris Tama, menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam situasi yang paradoksal. Di satu sisi, indikator makro menunjukkan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif terjaga dan inflasi terkendali.
Namun di sisi lain, masyarakat akar rumput masih menghadapi tekanan serius akibat menurunnya daya beli, meningkatnya biaya hidup, serta terbatasnya akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
“Ketimpangan ekonomi kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Aris dalam keterangannya, Jumat (2/1/26).
Dalam situasi tersebut, berbagai upaya dilakukan masyarakat untuk bertahan. Koperasi, usaha berbasis komunitas, hingga model bisnis berjejaring menjadi alternatif yang mulai banyak ditempuh. Namun demikian, tidak sedikit praktik ekonomi yang justru memperdalam krisis kepercayaan. Relasi usaha cenderung bersifat transaksional, solidaritas sosial melemah, dan janji kesejahteraan sering kali tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Menurut Aris, di tengah kondisi tersebut, pendekatan Spirit–Sociopreneur Networking dapat menjadi jalan tengah yang lebih moderat dan realistis. Model ini tidak menjanjikan kesejahteraan instan, melainkan menekankan pembangunan ekonomi berbasis nilai, komunitas, dan keberlanjutan jangka panjang.
“Pendekatan ini berpijak pada kekuatan komunitas yang selama ini menjadi bantalan sosial masyarakat Indonesia. Organisasi keagamaan, pesantren, dan jaringan jamaah terbukti memiliki daya lenting tinggi karena ditopang oleh kepercayaan dan nilai kebersamaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, ketika perlindungan sosial negara belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan mekanisme pasar bersifat fluktuatif, komunitas berbasis nilai dapat berperan sebagai penyangga sosial yang efektif.
Dalam konteks tersebut, spirit tidak dimaknai sekadar simbol, melainkan sebagai institusi nilai yang hidup. Prinsip amanah, keadilan, keberpihakan pada kelompok rentan, serta etika pelayanan menjadi landasan utama dalam aktivitas ekonomi. Nilai-nilai ini dinilai mampu menjaga arah moral usaha sekaligus membangun kepercayaan publik sebagai modal sosial yang semakin langka di era modern.
Lebih lanjut, Aris menjelaskan bahwa sociopreneurship berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan. Usaha tidak semata mengejar keuntungan, tetapi diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat seperti akses pangan, pendidikan, kesehatan, dan sektor pertanian. Keuntungan tetap penting, namun ditempatkan sebagai sarana keberlanjutan, bukan tujuan akhir.
Aspek jejaring dalam Spirit–Sociopreneur Networking juga dipahami secara kritis. Jejaring dibangun bukan melalui pola rekrutmen agresif, melainkan sebagai ekosistem relasi berbasis kepercayaan. Yang direplikasi bukan hanya produk atau sistem distribusi, tetapi juga etika usaha dan semangat pelayanan. Prinsip “nilai mendahului skala” menjadi kunci agar pertumbuhan tidak kehilangan arah.
Pendekatan ini dinilai semakin relevan ketika didukung oleh sistem kerja yang tertib dan terukur, seperti Socio Marketing Network System, yang berfungsi sebagai arsitektur distribusi sekaligus jejaring pemasaran sosial.
“Di tengah tekanan ekonomi global, krisis ekologi, dan ketimpangan yang belum sepenuhnya teratasi, Spirit–Sociopreneur Networking menawarkan optimisme yang rasional. Bukan optimisme semu, tetapi ikhtiar membangun ekonomi umat secara bertahap, sadar, dan berkeadilan dari basis komunitas,” pungkas Aris. Red
