Lampung Utara, Release24.online – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kabupaten Lampung Utara berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan seremonial. Namun di balik kemeriahan tersebut, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Lampung Utara mengingatkan bahwa delapan dekade usia daerah seharusnya menjadi momentum evaluasi besar, bukan sekadar ajang perayaan tahunan.
Ketua Umum PC PMII Lampung Utara, Feny Sri Ayu, menegaskan bahwa usia 80 tahun merupakan usia yang cukup matang untuk sebuah daerah. Karena itu, pemerintah tidak boleh lagi berlindung di balik slogan, seremoni, maupun pencitraan pembangunan yang tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat.
“Jangan terlalu bangga dengan pesta perayaan jika masih banyak rakyat yang setiap hari harus berjuang melewati jalan rusak, serta kesenjangan pembangunan yang masih nyata di berbagai wilayah Lampung Utara,” tegas Feny, Minggu (14/6/2026).
PMII menilai bahwa hingga hari ini masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan secara serius. Infrastruktur di sejumlah kecamatan dan desa masih memprihatinkan, sementara masyarakat terus menunggu kehadiran pemerintah melalui pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Menurut Feny, ukuran keberhasilan pembangunan tidak dapat dilihat dari banyaknya acara seremonial atau besarnya anggaran yang dihabiskan, melainkan dari sejauh mana kesejahteraan masyarakat meningkat dan pelayanan publik semakin baik.
“Delapan puluh tahun bukan waktu yang singkat. Jika persoalan dasar masyarakat masih terus berulang setiap tahun, maka pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah dan efektivitas pembangunan yang selama ini dijalankan,” ujarnya.
PMII juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran daerah. Setiap rupiah uang rakyat, kata dia, harus dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya secara nyata dan terukur.
“Kami tidak ingin pembangunan hanya terlihat bagus di atas kertas atau laporan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil yang bisa dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Selain itu, PMII menilai bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan masih perlu diperkuat. Aspirasi rakyat tidak boleh hanya didengar saat momentum politik atau musyawarah formal, tetapi harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan daerah.
“Rakyat jangan hanya dijadikan objek pembangunan dan penonton dari berbagai proyek yang dikerjakan. Rakyat harus menjadi subjek yang dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan pembangunan,” tegas Feny.
Dalam momentum HUT ke-80 Kabupaten Lampung Utara, PMII menegaskan akan tetap berada pada posisi sebagai mitra kritis pemerintah. Dukungan akan diberikan terhadap setiap kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat, namun kritik akan terus disuarakan ketika pemerintah gagal menjawab kebutuhan masyarakat.
Bagi PMII, usia delapan dekade seharusnya menjadi titik refleksi yang jujur. Lampung Utara tidak membutuhkan lebih banyak seremoni, melainkan lebih banyak keberanian untuk menyelesaikan persoalan rakyat.
“Delapan puluh tahun bukan sekadar angka. Ini adalah ujian bagi pemerintah daerah untuk membuktikan bahwa pembangunan benar-benar hadir sampai ke pelosok, bukan hanya terlihat di panggung perayaan. Sejarah yang panjang harus dibayar dengan kemajuan yang nyata dan dirasakan seluruh rakyat Lampung Utara,” pungkasnya. Red
