Jakarta, Release24.online — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dimaknai sebagai momentum reflektif untuk merumuskan arah baru gerakan kader di tengah dinamika sosial-politik yang kian kompleks.
Dalam momentum tersebut, Aris menggagas pembentukan wadah alumni muda sebagai langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi intelektual dan peran kader dalam ruang publik.
Menurutnya, tantangan zaman saat ini menuntut hadirnya aktor-aktor muda yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki kedalaman analisis serta kapasitas intervensi yang terukur. Alumni muda PMII dinilai memiliki modal sosial dan intelektual yang besar, namun belum terkelola dalam ekosistem kolaboratif yang berkelanjutan.
“Inisiasi wadah alumni muda bukan sekadar kebutuhan struktural, melainkan keniscayaan historis untuk menjaga kesinambungan tradisi intelektual PMII dalam menjawab tantangan zaman,” ujar Aris. Minggu, (19/4/2026).
Ia menegaskan pentingnya reposisi peran kader dan alumni muda, dari sekadar partisipan menjadi aktor strategis yang mampu memproduksi gagasan, memengaruhi kebijakan publik, serta membangun jejaring lintas sektor secara sistematis.
Lebih lanjut, wadah ini diharapkan menjadi ruang publik yang tidak hanya mengonsolidasikan energi kolektif, tetapi juga mendorong produksi pengetahuan, advokasi kebijakan, serta penguatan kapasitas kepemimpinan generasi muda.
Aris juga mengingatkan bahwa nilai dasar PMII keislaman, keindonesiaan, dan intelektualitas harus tetap menjadi fondasi dalam setiap gerakan. Tanpa pijakan nilai yang kuat, konsolidasi berpotensi kehilangan arah dan substansi.
“Harlah ke-66 ini harus dimaknai sebagai momentum reposisi. Alumni muda PMII harus tampil sebagai kekuatan epistemik dan sosial yang progresif, relevan, serta memiliki daya tawar dalam membangun masa depan bangsa,” tutupnya. (Ridho)
